BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dapat dilihat sebagai bangunan
ilmu (body of knowledge), cara
berpikir (way of thinking), cara
penyelidikan (way of investigation). Sebagai
bangunan ilmu pengetahuan, IPA terdiri dari
fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori. Bangunan ilmu ini bersifat satu
kesatuan dan saling mendukung. Pola bangunan keilmuan dari fakta sampai dengan
teori ini akan melahirkan arahan pola berpikir baik induktif maupun deduktif.
Serangkaian tahap atau cara berproses ilmiah dalam sains melahirkan cara
penyelidikan.
Secara filosof, IPA sebagai bangunan ilmu dapat dikaji baik
secara ontologi, epistimologi dan aksiologi. IPA sebagai suatu bangunan ilmu
yang mempunyai karakteristik yang erat kaitannya dengan objek alam.
Permasalahan yang terjadi pada objek
alam bersifat holistik. Keholistikan permasalahan ini membutuhkan pemecahan
masalah dari berbagai bidang interdisipliner, khususnya bidang IPA.
Mata Pelajaran IPA adalah sebagai sarana untuk memahami alam
dan melatihkan pola pikir siswa dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang
berkaitan dengan objek IPA. Amanah kurikulum menghendaki IPA dibelajarkan
secara terpadu sesuai dengan `namanya yaitu IPA Terpadu. Namun demikian, konten
materi dalam kurikulum IPA masih terpisah.
Keterpaduan baru sekedar dilihat dari perspektif
penggabungan secara berlapis materi fisika, kimia dan biologi. Perspektif dalam
memadukan secara holistik belum disentuhkan. Hal ini sesuai dengan sains yang
mempelajari objek dari gejala dan fenomena secara holistik. Gejala dan fenomena
IPA pada objek permasalahan IPA merupakan kumpulan konsep yang utuh bukan
terpisah.Itulah sebabnya IPA perlu dibelajarkan secara holistik dalam bentuk
IPA terpadu. Hal ini bertujuan untuk membentuk pola pikir peserta didik yang
holistik. Pola pikir peserta didik yang holistik ini akan digunakan sebagai life skill dalam menyelesaikan
permasalahan dalam kehidupan.
NSTA (Standasrs for
Science Teacher Preparation) dalam Insih Wilujeng (2010:353), merekomendasikan
agar guru-guru IPA sekolah dasar dan menengah harus memiliki kecenderungan
interdisipliner pada IPA. Sebagai usaha untuk memenuhi tuntutan tersebut, maka
guru-guru IPA sekolah dasar dan menengah hendaknya disiapkan untuk memiliki
kompetensi dalam biologi, kimia, fisika, bumi dan antariksa serta bidang IPA
lainnya.
Saat ini, guru yang mengajar IPA di sekolah belum dari
lulusan pendidikan IPA tetapi masih berasal dari latar belakang pendidikan biologi,
kimia dan fisika. Calon guru dari Pendidikan IPA sudah dibekali kompetensi untuk
mampu mengajar IPA secara terpadu. Namun demikian ada kendala bagi guru di
lapangan yang berasal dari latar belakang terpisah tadi. Selain itu juga
ditinjau dari konten struktur KTSP IPA yang masih dikemas terpisah. Maka dari
itu perlunya pengemasan pembelajaran IPA secara menarik melalui penyajian tema.
Tema ini menggambarkan permasalahan atau persoalan IPA untuk
dicari pemecahan masalah melalui serangkaian pembelajaran IPA. Tema yang
disajikan harapannya menarik, kontekstual untuk disajikan kepada siswa. Tema
ini dapat disajikan melalui pembelajaran IPA menggunakan connected model, webbed
model dan integrated model. Dalam tema terkandung kompetensi yang sesuai
ditinjau dari aspek fisika, kimia dan biologi. Pemetaan ini tergambarkan dalam
peta kompetensi.
B. Rumusan
Masalah
1.
Jelaskan Hakikat dan Tujuan Pembelajaran
IPA di SD!
2.
Bagaimana Pembelajaran Sains
Terintegrasi?
3.
Bagaimana Rancangan Pembelajaran Sains Terintegrasi?
4.
Apa Persamaan dan Perbedaan antara
Pembelajaran Sains Terintegrasi dan Tematik?
C. Tujuan
Penulisan
1.
Mengetahui Hakikat dan Tujuan
Pembelajaran IPA di SD.
2.
Mengetahui Pembelajaran Sains
Terintegrasi.
3.
Mengetahui Rancangan Pembelajaran Sains
Terintegrasi.
4.
Mengetahui Persamaan dan Perbedaan
Pembelajaran Sains Terintegrasi dan Tematik
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Hakikat
dan Tujuan Pembelajaran IPA di SD
Pembelajaran merupakan suatu proses penyampaian pengetahuan,
yang dilaksanakan dengan menuangkan pengetahuan kepada siswa (Oemar Hamalik,
2008: 25). Bila pembelajaran dipandang sebagai suatu proses, maka pembelajaran
merupakan rangkaian upaya atau kegiatan guru dalam rangka membuat siswa
belajar. Proses tersebut dimulai dari merencanakan progam pengajaran tahunan,
semester dan penyusunan persiapan mengajar (lesson plan) berikut persiapan
perangkat kelengkapannya antara lain berupa alat peraga dan alat-alat
evaluasinya (Hisyam Zaini, 2004: 4). Berdasar beberapa pendapat diatas
maka disimpulkan pembelajaran adalah suatu proses dan rangkaian upaya atau
kegiatan guru dalam rangka membuat siswa belajar, pembelajaran juga merupakan
persiapan di masa depan dan sekolah mempersiapkan mereka untuk hidup dalam
masyarakat yang akan datang. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan mata pelajaran di
SD yang dimaksudkan agar siswa mempunyai pengetahuan, gagasan dan konsep yang
terorganisasi tentang alam sekitar, yang diperoleh dari pengalaman melalui
serangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan, penyusunan dan penyajian
gagasan-gagasan.
IPA adalah pengetahuan khusus yaitu dengan melakukan
observasi, eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori dan demikian
seterusnya kait mengkait antara cara yang satu dengan cara yang lain (Abdullah,
1998: 18). IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara
sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan sistematis dan IPA
bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta,
konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu proses
penemuan (Sri Sulistyorini, 2007: 39).
Menurut Iskandar IPA adalah ilmu yang mempelajari
peristiwa-peristiwa yang terjadi alam (Iskandar, 2001: 2). Ilmu Pengetahuan
Alam merupakan mata pelajaran di SD yang dimaksudkan agar siswa mempunyai
pengetahuan, gagasan dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang
diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain
penyelidikan, penyusunan dan penyajian gagasan-gagasan.
Pada prinsipnya,
mempelajari IPA sebagai cara mencari tahu dan cara mengerjakan atau melakukan
dan membantu siswa untuk memahami alam sekitar secara lebih mendalam (Depdiknas
dalam Suyitno, 2002: 7).
Dari beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan pembelajaran
IPA adalah ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam
dengan melakukan observasi, eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori agar
siswa mempunyai pengetahuan, gagasan dan konsep yang terorganisasi tentang alam
sekitar, yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah
antara lain penyelidikan, penyusunan dan penyajian gagasan-gagasan. Adapun
tujuan pembelajaran IPA di SD, antara lain :
1. Mengembangkan rasa ingin tahu dan
suatu sikap positif terhadap sains, teknologi dan masyarakat.
2. Mengembangkan keterampilan proses
untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.
3. Mengembangkan pengetahuan dan
pemahaman konsep-konsep sains yang akan bermanfaat dan dapat diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari.
4. Mengembangkan kesadaran tentang
peran dan pentingnya sains dalam kehidupan sehari-hari.
5. Mengalihkan pengetahuan,
keterampilan dan pemahaman ke bidang pengajaran lain.
6. Ikut serta dalam memelihara, menjaga
dan melestarikan lingkungan alam. Menghargai berbagai macam bentuk ciptaan
Tuhan di alam semesta ini untuk dipelajari (Sri Sulistiyorini, 2007: 40)
B. Pembelajaran
Sains Terintegrasi
Pembelajaran sains terintegrasi merupakan sebuah konsep yang
dapat dianggap sebagai suatu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan konsep
– konsep dalam ilmu pengetahuan untuk memberikan pengalaman belajar menjadi
lebih bermakna kepada anak didik. Integrasi berati pembauran, penggabungan
sehingga menjadi satu.
Perkembangan pembelajaran IPA SD dewasa ini mengalami
pergeseran dari pembelajaran yang berpusat pada guru ke arah pembelajaran yang
berpusat pada siswa, semua aktifitas dilaksanakan oleh guru, guru cenderung
mendominasi kelas dengan menggunkan ceramah, mendengar sambil mencatat apa yang
diucapkan oleh guru. Pembelajaran terpadu adalah:
1. Pembelajaran yang beranjak dari
suatu tema tetentu sebagai pusat perhatian yang digunakan untuk memahami
gejala-gejala dan konsep lain , baik dari bidang studi yang bersangkutan maupun
dari bidang studi lainya.
2. Suatu pendekatan pembelajaran yang
menghubungkan berbagai bidang studi yang mencerminkan dunia nyata.
3. Suatu cara untuk mengajarkan
pengetahuan atau keterampilan secara simultan.
4. Merakit atau menggabungkan sejumlah
konsep dalam beberapa bidang studi yang berbeda dengan harapan siswa akan
belajar dengan baik.
Makna terpadu dalam pembelajaran IPA
adalah adanya keterkaitan antara berbagai aspek dan materi yang tertuang dalam
Kompetensi Dasar IPA sehingga melahirkan satu atau beberapa tema pembelajaran. Pembelajaran terpadu juga dapat
dikatakan pembelajaran yang memadukan materi beberapa mata pelajaran atau
kajian ilmu dalam satu tema. Keterpaduan dalam pembelajaran IPA dimaksudkan
agar pembelajaran IPA lebih bermakna, efektif, dan efisien. Melalui
pembelajaran IPA terpadu, peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung,
sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan menerapkan
konsep yang telah dipelajarinya. Dengan demikian, peserta didik terlatih untuk
dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari secara menyeluruh
(holistik), bermakna, autentik dan aktif. Berikut ini adlah Karakteristik
Pembelajaran terpadu:
1. Bersifat holistik (berhubungan dng
sistem keseluruhan sbg suatu kesatuan lebih dp sekadar kumpulan bagian)
2. Berpusat pada anak didik
3. Memberi pengalaman langsung kepada
siswa
4. Pemisahan materi tidak begitu jelas
5. Menyajikan konsep-konsepberbagai
topic
6. Hasil pembelajaran dapat mendorong
perkembangan anak
Pada pendekatan
pembelajaran terpadu mata pelajaran IPA, perangkat pembelajaran disusun dari
berbagai cabang ilmu dalam rumpun ilmu sosial. Pengembangan pembelajaran
terpadu dapat mengambil suatu topik dari suatu cabang ilmu tertentu, kemudian
dilengkapi, dibahas, diperluas, dan diperdalam dengan cabang-cabang ilmu yang
lain. Tema dapat dikembangkan dari isu, peristiwa, dan permasalahan yang
berkembang, contohnya banjir, pemukiman kumuh, potensi pariwisata, IPTEK,
mobilitas sosial, modernisasi yang dibahas dari berbagai disiplin ilmu-ilmu
sosial.
Selain itu sda beberapa model keterpaduan. Fogarty (1991:
xv),
mendefinisikan terdapat sepuluh
model keterpaduan secara umum. Model tersebut antara lain fragmented model,
connected model, nested model, sequenced model, shared model, webbed model, threaded model, integrated model, immersed
model, dan networked
model. Selanjutnya dijelaskan bahwa sepuluh model tersebut dibagi
dalam tiga kategori yaitu within single
disclipines (fragmented, connected, nested), across several disclipines
(sequenced, shared, webbed, thresded, integrated), within and across learners
(Immersed and networked). Dari sepuluh model tersebut, ada tiga model yang sesuai dengan pembelajaran IPA
yaitu connected, webbed dan integrated.
Menurut Depdiknas (2009: 4), berikut ini disajikan tiga
model keterpaduan IPA berisi baik
kelebihan maupun keterbatasan masing-masing model.
Berikut ini adalah karakteristik, kelebihan dan keterbatasan
dari model pembelajaran IPA Terpadu.
|
Model
|
karakteristik
|
Kelebihan
|
Keterbatasan
|
|
Keterpaduan
(integrated)
|
Membelajarkan beberapa KD yang
konsep – konsepnya beririsan / tumpang tindih
|
· Pemahaman terhadap konsep lebih
utuh (holistic)
· Lebih efisien
· Sangat kontekstual
|
· KD – KD yang konsepnya beririsan
berda dalam semester atau kelasyang berbeda
· Menuntut wawasan dan penguasaan
materi yang luas
· Sarana – prasarana, misalnya
bukubelum mendukung
|
|
Jarring
Laba – Laba
(Webbed)
|
Menjelaskan beberapa KD yang
berkaitan melalui sebuah tema
|
· Pemahaman terhadap konsep utuh
· Kontekstual
· Dapat dipilih tema – tema menarik
yang dekat dengan kehidupan
|
· KD – KD yang berkaitan berada
dalam semester atau kelas yang berbeda
· Tidak mudah menemukan tema pengait
yang tepat
|
|
Keterhubungan
(connected)
|
Membelajarkan sebuah KD, konsep –
konsep pada KD tersebut dipertautkan dengan konsep pada KD yang lain
|
· Melihat permasalahan permasalahan
tidak hanya dari satu bidang kajian
· Prmbrljaran dapat mengikuti KD –
KD dalam SI, tetapi harus dikaitkan dengan KD yang relevan
|
Kaitan
antara bidang kajian sudah tampak tetapi masih didominasi oleh bidang kajian
tertentu
|
C. Rancangan
Pembelajaran Sains Terintegrasi
Secara garis besar Pembelajaran terpadu dibedakan menjadi dua jenis
berdasarkan cakupan materi yang akan di integrasikan yaitu :
1. intrakurikulum : mengintegrasikan
topik-topik yang terdapat di dalam satu rumpun bidang studi misalnya IPA
terdiri dari: Biologi,Fisika,Kimia,
2.
Interdisiplin
ilmu : mengintegrasikan topik atau konsep dalam berbagai disiplin ilmu
Dalam arti tidak ada batas – batas antara ketiga bidang ilmu
tersebut. Sedangkan pembelajaran terpadu intraidisiplin ilmu mengintegrasikan
topic atau konsep dalam disiplin ilmu. Ada beberapa argument yang dapat
dijadikan alasan perlunya penerapan cara pembelajaran secara inter dan intradisiplin
ilmu, di antaranya:
1. Pemahaman perserta didik terhadap
topic lebih bermakna, karena topic kegiatan yang disajikan lazimnya berkaitan
dengan kehidupan sehari – hari atau dunia anak.
2. Pengembangan keterampilan proses
lebih baik karena sajian bahan pelajaran tidak berkotak – kotak oleh pemilahan
mata pelajaran.
3. Menghindari penyajian materi yang
berulang yang menyebabkan peserta didik bosan. Bila penyajiannya secara terpadu
(terkolerasi) pengulangan itu dapat berupa penguatan atau kelanjutan materi.
Tetapi kalau disajikan secara terpisah merupakan pengulangan yang tidak
diperlukan.
4. Memungkinkan penghematan akibat
perencanaan yang terpadu dari beberapa topic berbagai mata pelajaran.
5. Pembelajaran akan lebih menarik dan
menantang.
Sebagai contoh pembelajaran IPA SD secara
Interdisiplin Ilmu yaitu Pembelajaran terpadu dengan tema pertumbuhan dapat ditinjau
dari kajian fisika kimia, dan biologi, yang mana ketiga kajian tersebut masih
dalam satu bidang studi yaitu IPA terpadu. Dari mata pelajaran fisika,
aspek-aspek yang dikaji antara lain: faktor-faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan pada tumbuhan seperti cahaya, dan suhu. Dari cahaya, materi akan
akan dijabarkan menjadi sifat-sifat cahaya, dispersi cahaya, pemantulan cahaya,
dan pembiasan cahaya. Mata pelajaran yang diterapkan dalam pembelajaran ini
mengacu pada partikel-partikel materi (atom, molekul, dan ion). Dalam tema di
atas tersaji pada faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tumbuhan,
khususnya nutrisi/makanan, air dan mineral. Air termasuk contoh dari molekul
senyawa dengan rumus H2O, selanjutnya mineral merupakan contoh
unsur-unsur, seperti kalsium (Ca), kalium (K), fosfor (P) dan lain-lain.
Sedangkan dari mata pelajaran biologi, banyak aspek yang bisa dikembangkan,
misalnya gen, hormon, kelembaban, dan cahaya matahari, khususnya untuk
fotosintesis.
|
Pertumbuhan
|
|
Kimia
-
Mendefinisikan pengertian
pertikel materi (atom, molekul dan ion)
-
Memberikan contoh atom,
molekul dan ion
-
Peranan atom, molekul dan ion
dalam pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan.
|
|
Biologi
- Menjelaskan
factor – factor yang mempengaruhi pertumbuhan tumbuhan
- Melakukan
kesperimen tentang factor factor – factor yang mempengaruhi pertumbuhan
tumbuhan dan perkembangannya
|
|
Fisika
- Merancang
dan melakukan percobaan untuk menunjukkan sifat – sifat cahaya
- Pengaruh
intensitas cahaya terhadap pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan
|
1. Tujuan
Untuk
memperoleh pengertian dan pengetahuan dasar tentang :
a. Pertumbuhan pada tumbuhan
b. Factor – factor yang mempengaruhi
tentang pertumbuhan tumbuhan
c. Factor – factor yang mempengaruhi
tentang perkembangan tumbuhan
d. Dapat melakukan eksperimen mengenai
pertumbuhan pada tumbuhan
2. Alat, bahan dan sumber bahan
a. Alat dan Bahan
-
Daun
-
Biji
kacang hijau
-
Potongan
lidi
-
Gambar
– gambar mengenai tumbuhan
-
Kertas
dan sebagainya
b.
Sumber
Bahan
-
GBPP
-
Buku
Paket
-
Buku
Pedoman
-
Buku
Sumber lain
3.
Kegiatan
belajar mengajar
a. Kegiatan Tanya jawab
Contoh
pertanyaan :
1) Apa pengertian pertumbuhan?
2) Apa saja factor yang mempengaruhi
pertumbuhan tanaman?
3) Bagaimana pengaruh suhu terhadap
pertumbuhan tanaman?
4) Apakah yang di butuhkan tumbuhan
agar dapat tumbuh dengan subur?
Pendekatan
pembelajaran terpadu mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sering disebut
dengan pendekatan interdisipliner. Model pembelajaran terpadu pada hakikatnya
merupakan suatu model pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara
individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta
prinsip-prinsip secara holistik dan autentik (Depdikbud, 1996:3).
Pembelajaran tematik dapat diartikan suatu kegiatan
pembelajaran dengan mengintegrasikan materi beberapa mata pelajaran dalam satu
tema/topik pembahasan. Dengan
demikian, peserta didik terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep
yang dipelajari secara menyeluruh (holistik), bermakna, autentik dan aktif.
Kemudian contoh pembelajaran terpadu intrakurikulum, dengan
topic listrik. Dalam hal ini, topic listrik dijadikan sebagai topic inti. Dalam
kurikulum SD topic listrik di berikan pada kelas – kelas akhir yaitu kelas V
dan VI. Adapaun tahap – tahap dalam pembelajaran adalah sebagai berikut
Pertama, dalam pembelajaran dikelas perlu di
ubgkap pengertian listrik serta sifat – sifatnya. Hal – hal apa saja yang dapat
disajikan sebagai sumber listrik, serta meminta siswa untuk membuktikan contoh
alat – alat apa saja yang dapat membangkitkan tenaga listrik. Dalam hal ini
pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan alat bantu sederhana seperti
penggaris plastic, kain wol, serpihan kertas, balon karet dan sebagainya.
Selama pembelajaran berlangsung diperlukan keterlibatan siswa secara aktif
dalam pembelajaran. Pertanyaan – pertanyaan yang akan diajukan sebaiknya
disiapkan telebih dahulu.
Kedua, kemudian anda dapat berpindah pada
topic cahaya. Dengan mengajukan beberapa pertanyaan seperti: Apakah manfaat
listrik bagi kehidupan kita? Apakah alat – alat atau perabotan dirumahmu yang
menggunakan listrik? Apakah anda menggunakan listrik sebagai sumber penerangan
di malam hari? Apakah hubungan listrik dengan cahaya? Pertanyaan – pertanyaan
ini akan menggiring siswa kepada kaitan cahaya dengan listrik. Dengan perkataan
lain lampu memancarkan cahaya setelah dialiri listrik.
Ketiga, anda dapat berpindah pada topic
energy, gaya dan kerja. Dalam hal ini dapat dikaitkan dengan topic listrik.
Sebagai gambaran pada saat ini banyak peralatan dirumah yang menggunakan listrik,
bahkan dibeberapa tempat alat angkutan seperti mobil ada yang menggunakan
listrik sebagai sumber energy, kipas listrik dapat berputar karena dihubungkan
listrik. Contoh – contoh lain dapat diungkap dengan memancing kreatifitas siswa
untuk menceritakan pengalaman siswa sehari – hari dirumah atau dari bahan
bacaan atau dri TV dan sebagainya.
Selanjutnya anda dapat mengaitkan topic listrik dengan
populasi dalam biologi. Hubungan antara jumlah listrik yang harus disiapkan
oleh PLN dalam suatu wilayah dalam hal ini dikaitkan dengan bertambahnya
populasi penduduk dan sebagainya.
Dengan pelajaran Kimia, secara sederhana dapat disebutkan
bahan – bahan kimia apa saja yang terkandung dalam baterai sehingga dapat
menimbulkan arus listrik. Di samping itu dapat pula disebutkan apa kelebihan –
kelebihan atau kelemahan – kelemahan baterai sebagai sumber listrik
dibandingkan dengan sumber energy lainnya seperti energy matahari, air terjun
dan sebagainya.
D. Persamaan dan Perbedaan Pembelajaran
Sains Terintegrasi dan Tematik
Pengertian Pendekatan Integratif atau terpadu adalah rancangan
kebijaksanaan pengajaran bahasa dengan menyajikan bahan-bahan pelajaran secara
terpadu, yaitu dengan menyatukan, menghubungkan, atau mengaitkan bahan
pelajaran sehingga tidak ada yang berdiri sendiri atau terpisah-pisah.
Pendekatan terpadu terdiri dari dua macam :
1. Integratif Internal yaitu keterkaitan yang terjadi
antar bahan pelajaran itu sendiri, misalnya pada waktu pelajaran bahasa dengan
fokus menulis kita bisa mengaitkan dengan membaca dan mendengarkan juga.
2. Integratif Eksternal yaitu keterkaitan antara bidang
studi yang satu dengan bidang studi yang lain, misalnya bidang studi bahasa
dengan sains dengan tema lingkungan maka kita bisa meminta siswa membuat
karangan atau puisi tentang banjir untuk pelajaran bahasanya untuk pelajaran
sainsnya kita bisa menghubungkan dengan reboisasi atau bisa juga pencemaran
sungai.
Pembelajaran terpadu merupakan suatu model pembelajaran yang mencoba
memadukan beberapa pokok bahasan. Salah satu diantaranya adalah memadukan pokok
bahasan atau sub pokok bahasan atau bidang studi, keterangan seperti ini
disebut juga dengan kurikulum (DEPDIKBUD, 1990: 3), atau pengajaran lintas
bidang studi (Maryanto, 1994: 3). Menurut Cohen dan Manion (1992) dan Brand
(1991), terdapat tiga kemungkinan variasi pembelajaran terpadu yang berkenaan
dengan pendidikan yang dilaksanakan dalam suasana pendidikan progresif yaitu:
1. Kurikulum terpadu (integrated curriculum), kegiatan
menata keterpaduan berbagai materi mata pelajaran melalui suatu tema lintas
bidang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna sehingga batas antara berbagai
bidang studi tidaklah ketat atau boleh dikatakan tidak ada.
2. Hari terpadu berupa perancangan kegiatan siswa dari
sesuatu kelas pada hari tertentu untuk mempelajari atau mengerjakan berbagai
kegiatan sesuai dengan minat mereka.
3. Pembelajaran terpadu menunjuk pada kegiatan belajar
yang terorganisasikan secara lebih terstruktur yang bertolak pada tema-tema
tertentu atau pelajaran tertentu sebagai titik pusatnya (center core / center
of interest);
Pembelajaran Terpadu itu sendiri merupakan suatu model pembelajaran yang
membawa pada kondisi pembelajaran yang relevan dan bermakna untuk anak.
Pembalajaran terpadu merupakan media pembelajaran yang secara efektif membantu
anak untuk belajar secara terpadu dalam mencari hubungan-hubungan dan
keterkaitan antara apa yang telah mereka ketahui dengan hal-hal baru atau
informasi baru yang mereka temukan dalam proses belajarnya sehari-hari.
Pendekatan pembelajaran terpadu merupakan suatu strategi yang memberikan
kesempatan kepada anak untuk mengembangkan potensinya secara seimbang, optimal,
dan terpadu pula. Pendekatan terpadu pada dasarnya membantu anak untuk
mengembangkan dirinya secara utuh, membantu anak untuk menjadi pengembang dan
pembangun ilmu pengetahuan melalui pengalaman nyata. Melalui proses
pembelajaran terpadu anak dilatih untuk bekerja sama, berekreasi, dan
berkolaborasi dengan teman sejawatnya ataupun guru dalam mengembangkan ilmu
maupun memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Pendekatan pembelajaran
terpadu mencoba untuk menjadikan pembelajaran relevan dan bermakna, proses
belajar mengajar lebih bersifat informal, melalui pendekatan ini aktivitas
belajar anak meningkat.
Salah satu keterbatasan yang menonjol dari pembelajaran terpadu adalah pada
faktor evaluasi. Pembelajaran terpadu menuntut diadakannya evaluasi tidak hanya
pada produk, tetapi juga pada proses. Evaluasi pembelajaran terpadu tidak hanya
berorientasi pada dampak instruksional dari proses pembelajaran, tetapi juga
pada proses dampak pengiring dari proses pembelajaran tersebut. Dengan demikian
pembelajaran terpadu menuntut adanya teknik evaluasi yang banyak ragamnya.
Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema
untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga memberikan pengalaman belajar
yang bermakna kepada siswa, Indrawati 2009. Pembelajaran tematik adalah yang
dirancang berdasarkan tema-tema tertentu. Dalam pembahasannya tema itu ditinjau
dari berbagai mata pelajaran. Sebagai contoh, tema “Air” dapat ditinjau dari
mata pelajaran fisika, biologi, kimia, dan matematika. Lebih luas lagi, tema
itu dapat ditinjau dari bidang studi lain, seperti IPS, bahasa, dan seni.
Pembelajaran tematik menyediakan keluasan dan kedalaman implementasi
kurikulum, menawarkan kesempatan yang sangat banyak pada siswa untuk
memunculkan dinamika dalam pendidikan. Unit yang tematik adalah epitome dari
seluruh bahasa pembelajaran yang memfasilitasi siswa untuk secara produktif
menjawab pertanyaan yang dimunculkan sendiri dan memuaskan rasa ingin tahu
dengan penghayatan secara alamiah tentang dunia di sekitar mereka. Pembelajaran
Tematik merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan pada
siswa kelas rendah (yaitu: siswa kelas I, II dan III) di Sekolah Dasar. Konsep
pembelajaran tematik telah tercantum di dalam KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan). Di dalam KTSP tersebut dijelaskan bahwa pembelajaran tematik
adalah pendekatan yang harus digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran di Sekolah
Dasar/Madrasah Ibtidaiyah. Karena itu, bagi guru SD terutama guru kelas rendah
(I, II dan III) yang peserta didiknya masih berperilaku dan berpikir secara
konkret, kegiatan pembelajaran sebaiknya dirancang terpadu dengan menggunakan
tema sebagai pemersatu kegiatan pembelajarannya. Dengan cara ini maka
pembelajaran untuk siswa kelas I, II, dan III dapat menjadi lebih bermakna,
lebih utuh dan sangat kontekstual dengan dunia anak-anak. Artinya, dalam
pembelajaran bahasa siswa tidak hanya berkutat pada konstrak teori bahasa,
tetapi ditekankan pada sikap dan pemakaian bahasa yang kontekstual.
Arti Penting Pembelajaran Tematik menurut Departemen Pendidikan Nasional
November, 2006:
1.
Menekankan
keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif sehingga siswa memperoleh
pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai
pengetahuan yang dipelajarinya.
2.
Menekankan
penerapan konsep belajar sambil melakukan.
Ciri khas
pembelajaran tematik:
1.
Pengalaman dan
kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak
usia sekolah dasar.
2.
Kegiatan-kegiatan
yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat dan
kebutuhan siswa;
3.
Kegiatan belajar
akan lebih bermakna dan berkesan bagi siswa sehingga hasil belajar dapat
bertahan lebih lama;
4.
Membantu
mengembangkan keterampilan berpikir siswa;
5.
Mengembangkan
keterampilan sosial siswa, seperti kerjasama, toleransi, komunikasi, dan
tanggap terhadap gagasan orang lain.
Landasan
Pembelajaran Tematik, yaitu :
1.
Landasan
filosofis:
a. Progresivisme
Proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa.
Proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa.
b. Konstruktivisme
Anak mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan obyek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya.
Anak mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan obyek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya.
c. Humanisme
Melihat siswa dari segi keunikan/kekhasannya, potensi,
dan motivasi yang dimilikinya.
2.
Landasan
psikologis:
Psikologi
perkembangan untuk menentukan tingkat keluasan dan kedalamannya isi sesuai
dengan tahap perkembangan peserta didik. Psikologi belajar untuk menentukan
bagaimana isi/materi pembelajaran disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula
siswa harus mempelajarinya.
3.
Landasan
yuridis:
a. UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
b.
UU No. 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Tematik, menurut Kunandar (2007:315),
Pembelajaran tematik mempunyai kelebihan yakni:
1.
Menyenangkan
karena berangkat dari minat dan kebutuhan peserta didik.
2.
Memberikan
pengalaman dan kegiatan belajar mengajar yang relevan dengan tingkat
perkembangan dan kebutuhan peserta didik.
3.
Hasil belajar
dapat bertahan lama karena lebih berkesan dan bermakna.
4.
Mengembangkan
keterampilan berpikir peserta didiksesuai dengan persoalan yang dihadapi.
5.
Menumbuhkan
keterampilan sosial melalui kerja sama
6.
Memiliki sikap
toleransi, komunikasi dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
7.
Menyajikan
kegiatan yang bersifat nyata sesuai dengan persoalan yang dihadapi dalam
lingkungan peserta didik.
Selain kelebihan di atas pembelajaran tematik memiliki beberapa kelemahan.
Kelemahan pembelajaran tematik tersebut terjadi apabila dilakukan oleh guru
tunggal. Misalnya seorang guru kelas kurang menguasai secara mendalam
penjabaran tema sehingga dalam pembelajaran tematik akan merasa sulit untuk
mengaitkan tema dengan mateti pokok setiap mata pelajaran. Di samping itu, jika
skenario pembelajaran tidak menggunakan metode yang inovatif maka pencapaian
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar tidak akan tercapai karena akan menjadi
sebuah narasi yang kering tanpa makna.
Persamaan Pembelajaran Tematik dan Pembelajaran Terpadu bisa di lihat dari
materi dan tujuannya. Materi merupakan model pembelajaran yang memadukan
beberapa materi dalam beberapa mata pelajaran yang terkait secara harmonis,
sehingga memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. Pembelajaran
tematik pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa
mata pelajaran sehingga memberikan pengalaman belajar yang bermakna kepada
siswa. Tujuan pembelajaran yaitu Membantu guru dalam proses belajar mengajar
dan membantu siswa memahami materi pelajaran.
Perbedaan Pembelajaran Tematik dan
Pembelajaran Terpadu
bisa dilihat dari pengintegrasian dan penerapannya. Pertama, Pengintegrasian dalam Model Pembelajaran terpadu, keterpaduanannya terjadi beberapa macam hal beberapa diantaranya adalah karena adanya tumpang tindih sejumlah topik dalam beberapa mata pelajaran yang berbeda, butir-butir pembelajaran yang dapat dipayungkan pada induk mata pelajaran tertentu dll. Sedangkan dalam Model pembelajaran Tematik pengintegrasiannnya terjadi karena adanya tema tertentu yang kecenderungannya dapat disampaikan melalui beberapa bidang studi lainnya. Kedua, Pembelajaran tematik diterapkan di kelas rendah sedangkan Pembelajaran terpadu di kelas tinggi. Kemudian dari Penerapannya, pembelajaran terpadu dapat diterapkan di kelas tinggi, sedangkan pembelajaran tematik hanya dapat dilakukan di kelas rendah.
bisa dilihat dari pengintegrasian dan penerapannya. Pertama, Pengintegrasian dalam Model Pembelajaran terpadu, keterpaduanannya terjadi beberapa macam hal beberapa diantaranya adalah karena adanya tumpang tindih sejumlah topik dalam beberapa mata pelajaran yang berbeda, butir-butir pembelajaran yang dapat dipayungkan pada induk mata pelajaran tertentu dll. Sedangkan dalam Model pembelajaran Tematik pengintegrasiannnya terjadi karena adanya tema tertentu yang kecenderungannya dapat disampaikan melalui beberapa bidang studi lainnya. Kedua, Pembelajaran tematik diterapkan di kelas rendah sedangkan Pembelajaran terpadu di kelas tinggi. Kemudian dari Penerapannya, pembelajaran terpadu dapat diterapkan di kelas tinggi, sedangkan pembelajaran tematik hanya dapat dilakukan di kelas rendah.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pembelajaran IPA adalah ilmu yang mempelajari
peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam dengan melakukan observasi,
eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori agar siswa mempunyai pengetahuan,
gagasan dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang diperoleh dari
pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan,
penyusunan dan penyajian gagasan-gagasan. Pembelajaran sains terintegrasi
merupakan sebuah konsep yang dapat dianggap sebagai suatu pendekatan
pembelajaran yang menghubungkan konsep – konsep dalam ilmu pengetahuan untuk
memberikan pengalaman belajar menjadi lebih bermakna kepada anak didik.
Integrasi berati pembauran, penggabungan sehingga menjadi satu.
Secara garis besar Pembelajaran terpadu dibedakan menjadi dua jenis
berdasarkan cakupan materi yang akan di integrasikan yaitu, intrakurikulum
adalah mengintegrasikan topik-topik yang terdapat di dalam satu rumpun bidang
studi misalnya IPA terdiri dari: Biologi,Fisika,Kimia. Dan Interdisiplin ilmu adalah mengintegrasikan topik atau konsep
dalam berbagai disiplin ilmu
B. Saran
Sebagai calon guru yang nantinya akan mengajar, sebaiknya
kita harus memiliki wawasan yang luas tentang bagaimana cara mengajar dan
membuat rancangan belajar yang menarik bagi siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Sapriati, Amalia dkk. (2009). Pembelajaran IPA di SD.Jakarta:
Universitas Terbuka.
Komentar
Posting Komentar